Persiapan Menjadi Orang Tua Muda

5
Sumber: youngparentsnetwork.org
Sumber: youngparentsnetwork.org

Setelah menikah januari lalu saya bersama istri tidak lagi menunda kehamilan, saya segera malaksanakan bulan madu untuk merencanakan kehamilan. Alhamdulillah 2 bulan setelah menikah, sang istri langsung dianugerahkan calon anak dan rencana sanga istri bekerja pun batal.

Awal kehamilan sang istri diawali keram perut seperti PMS dan telat datang bulan, berhubung tampang saya masih seperti mahasiswa dan istri saya seperti anak SMA, awalnya saya merasa sedikit malu untuk membeli test pack, karena waktu itu kami masih tinggal dilingkungan mahasiswa. :malu: Tapi karena untuk kebaikan sang calon bayi ya nekat aja, toh kita sudah sah. Setelah test kehamilan menggunakan test pack hasilnya positif! Senangnya luar biasa, ternyata kami sudah dipercaya oleh Allah untuk dititipkan anak. Alhamdulillah. :matabelo:

Cari Dokter Terbaik

Setelah beberapa hari melakukan test kehamilan, kami langsung browsing dokter kandungan mana yang bagus dan enak untuk berkonsultasi. Setelah membaca di berbagai forum online, akhirnya kami menemukan dokter Yena yang waktu itu praktek di RSIA Limijati Bandung. Sempat ragu soal biaya, maklum perusahaan saya baru dibangun dan hanya mengandalkan invoice dari client. Hehe. Bulan maret 2014 biaya cek kandungan dan obat yang saya keluarkan di RSIA Limijati adalah berkisar Rp. 800.000 – 900.000 (Untuk pemeriksaan hanya sekitar 175.000). Yang membuat mahal waktu itu adalah obat penguat janin karena usia kandungan masih muda rentan akan keguguran.

USG RSIA Limijati
USG RSIA Limijati

Seperti kata ibu-ibu di forum online, dokter Yena cukup direkomendasikan untuk ibu hamil di wilayah bandung, selain mudah diajak konsultasi juga sangat detail memberi saran-saran untuk ibu muda yang baru pertama hamil seperti istri saya. Selain itu, banyak ibu-ibu lebih nyaman berkonsultasi dengan dokter perempuan.

Pulang Kampung

Usia kandungan trimester pertama adalah masa-masa penting dan rawan keguguran. Selain terjadi efek mual-muntah juga fenomena ngidam. Kami tinggal di bandung hanya berdua waktu itu, saya terkadang harus ketemu klien dari pagi hingga sore, karena khawatir akan kesehatan kandungan sang istri maka kami memutuskan untuk pulang ke kota serang agar lebih dekat dengan orang tua, sementara saya dapat pulang-pergi Serang-Bandung jika ada pekerjaan mendadak.

Ganti Dokter

Cek kandungan ke dokter kandungan disarankan untuk tidak berganti-ganti dokter untuk mempermudah pengecekan rekam medis sang pasien, kecuali memang tidak cocok. Tapi berhubung kami sudah pindah ke serang, kami harus lagi-lagi memilih dokter kandungan yang baik. Kami direkomendasikan untuk ke dokter Ammar yang praktek di Klinik Ibunda kota serang. 3 bulan berturut-turut kami konsultasi ke dokter ammar dan cukup merasa puas.

USG 3 Bulan
USG 3 Bulan

Dibulan ke 6 kehamilan kami mendengar ada dokter kandungan di kota serang yang cukup terkenal dan katanya sangat enak untuk berkonsultasi yaitu dokter Herman yang praktek di RSIA Puri Garcia. Ternyata betul, dr. Herman meman dokter terbaik yang pernah kami temui. Bukan hanya menjawab pertanyaan tapi juga mengajak kami berdiskusi tentang masalah kehamilan. Mulai dari mitos, pantangan, dan kesehataan bayi. Dokter herman justru menyarankan kita untuk tidak terlalu sering periksa kedokter selama masih merasa sehat, lebih baik uangnya ditabung untuk persalinan. Asal kita tetap mengkonsumsi makanan bergizi, menjaga kesehatan serta memperhatikan berat badan bayi dan ibu, periksa kandungan normalnya tiap 3 bulan sekali. Bahkan menurut pasien beliau, dokter herman masih mau menjawab pertanyaan pasien melalui telp bahkan ketika beliau sedang berada di singapore.

USG 3D 7 Bulan
USG 3D 6 Bulan

Persiapan Persalinan

Bagi seorang suami saya wajib untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk persalinan, mulai dari uang, mental, dan ilmu tentang cara mendidik anak.

Di kota serang, biaya persalinan normal berkisar Rp. 5.000.000 hinggal Rp. 10.000.000 bisa lebih murah tergantung fasilitas yang kita pilih. Tapi kita juga harus menyiapkan dana lebih untuk kemungkinan terburuk apabila ketika persalinan harus Caesar yang harganya bisa 2-3 kali lipat dari persalinan normal. :amazed:  :bingung:

Selain biaya persalinan, calon orang tua wajib menuntut ilmu cara mendidik anak dengan baik. Bukan hanya ilmu pengetahuan juga masalah agama dan akhlak. Mulai dari baca- baca di internet, menonton video tentang kajian anak, berkonsultasi dengan orang yang sudah berpengalaman, membeli buku, hingga mengamati para orang tua di sekitar kita dalam mendidik anak.

Masalah Rezeki

Awalnya kami sangat takut jika kami tidak dapat membiayai semua kebutuhan calon bayi, mulai dari biaya check up, obat, vitamin, makanan bergizi, susu, hingga biaya persalinan. Saya hanya seorang pengusaha yang sedang merintis usaha kecil yang juga belum berpenghasilan tetap. Tapi Alhamdulillah sejak sang istri hamil, kami selalu diberikan rezeki yang cukup untuk membiayai kebutuhan calon buah hati. Hampir setiap kali ingin check up, kami selalu diberikan rezeki yang tidak terduga. Alhamdulillah. Setelah itu kami tidak terlalu khawatir soal rezeki, asal terus berusaha dan doa, Insya Allah akan selalu dicukupkan. Insya Allah! :angel:

Saya selalu ingat ketika seorang ustad pernah mengatakan, jangan takut menikah, jangan takut punya anak. Karena menurut perhitungan akal kita, jika kita menikah makan rezeki kita akan dibagi 2 (dengan istri) lalu jika kita memiliki anak maka rezeki kita dibagi 3 (dibagi dengan istri dan anak). Tapi percayalah, Allah telah memberikan rezeki kepada setiap umatnya. Jadi jika kita menikah maka rezeki kita akan tetap justru bertambah 1 (rezeki istri). Begitu juga apabila kita memiliki anak maka bertambah 1 rezeki lagi (rezeki sang anak). :)

Soal rezeki ini, bukan hanya soal uang, istri yang sabar dan melayani suami dengan baik sehingga sang suami menjadi selalu bergairah untuk bekerja itu juga rezeki. Istri yang selalu berhemat dalam berbelanja, pintar mengatur keuangan dan tidak banyak menuntut ini-itu juga rezeki. Rezeki juga dapat berupa anak yang pintar dan sholeh. Misal sang anak mendapatkan beasiswa sehingga orang tua tidak perlu membayar uang sekolah atau anak yang sholeh yang selalu mendoakan orang tua. Itu juga rezeki tapi dalam bentuk berbeda. :D

=======================

Sekian sharing dari saya, semoga bermanfaat bagi sesama calon orang tua. Mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan dan kesalahan dalam penafsiran ilmu. Semoga anak kita kelak tidak seperti dibawah ini. :ngakaks :Peace:

Hehe

:sungkem

Discussion5 Comments

Leave a Reply