6 Tahun Pacaran Kini Menuju Pernikahan

13

Hola! Sudah hampir 5 bulan blog ini makan gaji buta. Tanpa maintenance, tanpa blog post baru, atau bahkan mungkin tanpa pengunjung juga? Oke, Pada tulisan kali ini saya akan share secara singkat pengalaman saya pacaran selama 6 tahun dan Insya Allah dalam waktu dekat akan melangsungkan pernikahan, Insya Allah. :D

Banyak yang bertanya kepada saya mengapa proses menuju pernikahan yang saya alami begitu cepat. Hemm, padahal kalau diceritain bisa 7 hari 7 malam. :D Entah ketika saya bercerita kepada teman sebaya saya tentang hal ini, mereka sangat tertarik dan menjadikan mereka semangat untuk segera menikah. Dengan tulisan ini semoga lebih banyak lagi orang yang akan menyusul dan bersegera ke pelaminan. :p

couple

6 Tahun Pacaran…

6 tahun bukan waktu yang sebentar dalam pacaran, kalau saja saya kredit motor mungkin sudah lunas sejak 1 tahun yang lalu.  :hammer: Begitu banyak cobaan yang saya alami selama berpacaran. Bermula dari hubungan jarak jauh (serang-bandung), kemudian jenuh, dan akhirnya perselingkuhan pun tidak dapat kita hindari. Hubungan putus-nyambung yang kita alami pun beberapa kali terjadi. Hemm, saya agak berat menceritakan tentang hal ini. Karena lebih banyak mudharat dibandingkan manfaatnya. Hehe. :o

Berawal dari doktrin buku dan kicauan @TweetNikah

buku twitnikahDitahun ke-6 pacaran, sang kekasih jadi sering kepo-in kicauan @TweetNikah yang semua kicauannya adalah kompor untuk segera menikah. Akun @TweetNikah pun sampai meluncurkan buku dengan judul “Aku, Kau dan KUA” yang pada saat itu sang kekasih mencari buku tersebut dari Serang, Bandung, hingga Semarang. Niat banget emang. Hehe

Sejak saat itu sang kekasih menjadi sering mengirimkan pesan (ngomporin) yang diambil dari kicauan dan kata-kata di buku @TweetNikah, dan itu membuat saya panas! :malu:  Pada suatu ketika saya mulai kepo-in timeline @TweetNikah dan juga twitter ustad @felixsiau. Isinya betul-betul menggugah saya untuk segera menikah! Disaat yang sama sang kekasih ke toko buku dan dia menemukan sebuah buku yang berjudul “Udah Putusin Aja” yang ternyata dibuat oleh @felixsiau juga. :D Nah Buat teman-teman yang sudah lama berpacaran, sok mangga kepo-in timeline akun tersebut.  :wowcantik

Masalah Kemapanan…

Photo 18-10-13 11.34.31Keluarga saya termasuk keluarga yang serba kekurangan, semenjak semester 4 sampai lulus kuliah saya mulai membiayai kuliah saya sendiri dengan bantuan dari teman-teman komunitas, kakak, dan juga sang kekasih yang beberapa kali menyisihkan uang jajannya untuk biaya kuliah saya. :o   Saya mengumpulkan uang selama beberapa bulan sambil menyelesaikan kuliah saya hasil dari mengerjakan proyek dan mengisi training tapi saya merasa belum cukup untuk modal menikah.  Ada yang salah memang.

@felixsiau sering memberikan kultwit tentang pernikahan. Pada saat itu saya membaca kultwit yang melampirkan sebuah hadits tentang rejeki dan pernikahan yang berbunyi “Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu”. (HR. Hakim dan Abu Dawud). Ada satu hadits lagi yang membuat saya mantap untuk menikah yaitu hadits yang berbunyi “Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan).” (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah). Subhanallah. :matabelo:

Alasan belum siapnya menikah biasanya masalah klasik, soal uang dan kemapanan. Seorang wanita tentu lebih memilih pria yang sudah mapan dengan alasan takut masa depannya tidak terjamin. Tidak salah memang, itu realistis. Tapi alangkah lebih baik menilai kemapanan dan masa depan seseorang dari usaha, kerja keras, keuletan, perhatian, tanggung jawab dan komitmennya. :)

Saya pernah membaca tulisan “Nikah Dulu Baru Mapan Bukan Mapan Dulu Baru Nikah. Tulisan itu membuat pikiran saya terbuka tentang proses menuju kemapanan. Seorang wanita yang menemani suaminya dalam keadaan serba ada (mapan) itu udah biasa, seorang wanita yang menemani suaminya dari yang tidak punya apa-apa menjadi punya segalanya itu baru luar biasa! Karena jika mapan dijadikan pondasi, bisa saja tiba-tiba mengalami kebangkrutan lalu apakah mampu bertahan?

Menuju Proses Lamaran…

Ini adalah bagian yang cukup menegangkan. Pada tanggal 17 agustus 2013 pukul 21:00 saya memantapkan diri untuk bilang ke orang tua sang kekasih kalau saya ingin menikahi anak beliau. Ketika itu ada yang membuat saya sulit untuk mengucapkan kata “Pak, saya ingin menikahi anak bapak” adalah masalah penghasilan saya yang belum tetap. Maklum saya memang belum ada rencana untuk bekerja di sebuah perusahaan, saya sedang merintis dan membangun bisnis saya sendiri. Alhamdulillah, orang tua sang kekasih adalah seorang pengusaha dan mengerti tentang keputusan saya untuk memilih membangun usaha sendiri dibandingkan menjadi karyawan. Saat itu juga, kami langsung menentukan tanggal lamaran!

Gagal Lamaran…

Saat berniat untuk melamar sang kekasih bersama keluarga saya, ada beberapa kendala yang membuat jadwal lamaran diundur menjadi 2 minggu lebih lama. Alasan mundurnya waktu lamaran adalah karena kesibukan saya yang pada saat itu tawaran proyek dan pekerjaan terus menghampiri saya. Saya sempat berfikir, apakah ini yang dimaksud dari sebuah hadits yang mengatakan menikah dapat membuka pintu rezeki?. Wallauhualam. Hal ini yang membuat saya semakin yakin untuk menikah. Padahal baru niat, Allah sudah membuka pintu rezeki apalagi sudah menikah? Insya Allah.

Hari Lamaran…

Pada tanggal 6 oktober 2013 saya bersama keluarga datang ke rumah orang tua sang kekasih untuk melamar anaknya secara resmi. Suasana ini sedikit menegangkan apalagi pada saat lamaran sempat ada rencana langsung melakukan akad nikah dengan alasan semua syarat telah terpenuhi. Namun untungnya orang tua saya tidak setuju karena sangat mendadak dan khawatir ada omongan dari tetangga tentang pernikahan yang mendadak ini. Hehe.

Banyak yang bertanya kepada saya berapa biaya yang harus dikeluarkan pada saat lamaran, saya hanya mengeluarkan uang untuk acara lamaran ini tidak lebih dari 3 juta rupiah dengan rincian 2.5 juta untuk cincin emas 3 gram dan bingkisan kurang lebih 300 ribu rupiah. Cincin ini dapat dijadikan mahar pada saat akad nikah nanti. Sebetulnya tanpa cincin pun tidak masalah, karena tidak ada dalam ayat maupun hadits yang mewajibkan untuk membeli cincin pada saat lamaran. Hehe

Cincin

Lalu berapa dana yang harus disiapkan untuk melakukan akad dan resepsi pernikahan? Nanti saya akan share di tulisan saya berikutnya yah. Hehe.

Sekian tulisan yang cukup panjang ini, semoga bermanfaat untuk teman-teman sekalian. Mohon doa dan restu teman-teman sekalian semoga diberi kelancaran dalam proses menuju hari pernikahan saya nanti. Amin.

 

Salam,

:shakehand2

@ciebal &  @dwiiiar

Discussion13 Comments

  1. Pingback: Persiapan Sebelum Akad dan Resepsi Pernikahan | Ciebal Weblog

  2. Ass. Wr. Wb
    Selamat mas, semoga menjadi keluarga SAMARA, Amin YRA.
    Sekedar share, Alhamdulillah..saya jg mengalami “proses pacaran” selama 9th, dan Alhamdulillah jg skrg sedang “berproses” menuju “kehalalan”. Insya Allah bulan Oktober ini, mohon doanya..

Leave a Reply